Kamis, 22 Februari 2024

Nasihat

 

Ketika engkau berbuat kebaikan, ikhlaskan niatmu, biarkan berlalu, jangan selalu ingin terimakasih dari orang lain.
 

 



Allah berfirman yang Artinya:
Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya
Kalau permasalahanmu begitu besar, maka ingatlah kisah (nabi Zakaria alaihissalam) yang berkata:
aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?”
kepalaku telah dipenuhi uban,
(Maka) dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
Maka Allah karuniakan beliau anak
Pentingnya memanjatkan doa pada Allah

-Dr. Ahmad Isa Al mi'shorowi

TERTUTUPNYA PINTU PETUNJUK

 

Syaqiq bin Ibrahim Al Balkhi rahimahullah berkata :” pintu petunjuk tertutup bagi makhluk yg melakukan 6 perkara :
1. Mereka sibuk dg nikmatNya namun lupa bersyukur
2. Keinginan mereka untuk selalu menuntut ilmu namun tidak mengamalkannya
3. Cepat berbuat dosa namun lambat melakukan taubat
4. Mereka tertipu saat bergaul dg orang2 shalih karena tidak mengikuti perbuatan mereka
5. Katanya mereka menjadikan dunia dibelakang namun mereka malah mengikuti kemana dunia itu pergi
6. Mereka meyakini negeri akhirat namun mereka berpaling darinya
(Syeikh Ahmad Farid, khawaatir iimaniyyah)
___
Semoga Allah menjauhkan kita semua dari perbuatan2 tsb .. Aamiin ya Rabb

Faidah: Ust. Ibnu Hasan Ath hobari

Kamis, 15 Februari 2024

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 

Jaka Prasetya, S.Si, M.Pd

Guru Penggerak Angkatan 9.

 

Kutipan kalimat bijak:

“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert)

 

Dari kutipan di atas kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang saya pelajari adalah bahwa sebagai seorang guru kita sering dihadapkan dengan kasus dilema etika atau bujukan moral sehingga dalam mengambil keputusan guru harus menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip, serta 9 langkah untuk mengambil sebuah keputusan. Hasil akhir dari pengambilan keputusan tersebut harus berpihak kepada murid dan mengandung nilai-nilai universal.

 

Bagaimana nilai-nilai atau prinsip yang dianut dalam pengambilan keputusan dapat memberikan dampak bagi lingkungan kita ?

Jika prinsip dan nilai-nilai yang diambil sudah sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan serta berpihak kepada murid maka akan menimbulkan suasana yang tidak saja nyaman bagi guru dan murid, tetapi akan memberikan dampak yang lebih besar lagi kepada semua warga sekolah.

 

Bagaimana anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan anda ?

Sebagai pemimpin pembelajaran guru harus mengambil keputusan dalam kegiatan belajar mengajarnya yaitu berpihak pada murid. Pembelajaran yang berpihak kepada murid adalah pembelajaran berdiferensiasi. Di dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru harus memenuhi kebutuhan murid, yaitu kesiapan belajar, minat, serta profil belajar mereka. Jika pemimpin pembelajaran sudah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di dalam kelas, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan mengundang murid untuk semangat dalam belajar.

 

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Pratap triloka Ki Hajar Dewantara berisi :

v  Ing Ngarsa Sung Tuladha : Di depan memberikan contoh

v  Ing Madya Mangun Karsa : Di Tengah memberi semangat

v  Tut Wuri Handayani : Di belakang memberi motivasi atau dorongan

Sebagai seorang pemimpin, dalam mengambil keputusan haruslah sesuai dengan pratap triloka tersebut. Makna yang terkandung di dalam Pratap Triloka sangatlah sesuai dengan cara penerapan pengambilan keputusan karena dapat diterima oleh semua pihak. Pemimpin tidak hanya dapat memberi nasihat saja, tetapai juga harus memberikan contoh, semangat, dan motivasi atau dorongan.

 

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam di dalam diri kita jelas sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Sebagai contoh nilai kejujuran dan tanggung jawab. Ketika kejujuran dan tanggung jawab sudah tertanam,  mesti akan sejalan dengan salah satu prinsip yang kita ambil dalam suatu keputusan.

 

 

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.

Pengambilan keputusan sangat berkaitan dengan kegiatan caoching. Melalui teknik coaching, coach berusaha menggali potensi coachee dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot sehingga coachee tidak terasa dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan dapat mengambil keputusannya sendiri. Pengambilan keputusan melalui proses coaching sangatlah efektif karena coach disini hanya memandu dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang terbuka dan berbobot.

 

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Jika seorang guru sudah mampu untuk mengelola kemampuan sosial emosional dan dapat hadir secara penuh (Mainfullness) untuk mengambil suatu keputusan mesti akan menghasilkan suatu keputuan terkait dilema etika dengan baik.

 

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral adalah dengan menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan

 

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Dalam pengambilan keputusan kita harus melalui 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan sehingga berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.

 

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan-tantangan dalam pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika secara umum terkait dengan adanya 4 paradigma yang terjadi pada dilema etika, yaitu :

1. Individu lawan kelompok (individual vs community)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).

Kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan sekitar saya haruslah mulai dibentuk bahwa keputusan yang diambil disesuaikan dengan 4 paradigma tersebut sehingga semua pihak dapat terwakili.

 

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan pengajaran yang memerdekakan murid sangatlah penting. Setiap murid memiliki karakter dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Untuk itu, pemebelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda tersebut yang paling tepat adalah dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan murid. Kebutuhan murid di sini meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil belajar mereka. Di samping itu, pembelajaran berdiferensiasi menggunakan 3 strategi yaitu strategi pembelajaran proses, konten, dan produk.

 

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan pembelajaran dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan muridnya sangatlah benar. Dengan memutuskan pembelajaran yang berpihak kepada murid (pembelajaran berdiferensiasi) akan mengakomodasi kemampuan murid yang berbeda-beda. Setiap murid memiliki potensi sendiri-sendiri. Hal ini dapat diambil oleh seorang guru dalam merancang kegiatan belajar mengajarnya setiap hari. Pembelajaran yang mengundang dan menyenangkan akan menimbulkan ketertarikan murid dan meninkatkan semangat dalam menikutinya serta pemberian pelajaran yang esensial tidak terpaku pada buku teks akan sangat berarti dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan masa depan murid.

 

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Bahwa dalam setiap pengambilan keputusan haruslah bersandarkan pada protap KHD, Nilai dan peran guru, pembelajaran sosial emosional, pembelajaran berdiferensiasi, serta ketrampilan coaching.

 

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Pemahaman saya tentang dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sudah paham, hal-hal di luar dugaan saya yaitu selama ini saya beranggapan jika mengambil keputusan adalah dengan cara yang sederhana saja, asalkan kasus dapat diselesaikan tanpa melihat dampaknya di lingkungan sekiar diterima secara positif atau negatif.

 

 

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, tetapi perbedaannya  pada waktu itu belum mengetahui apa itu perbedaan dilema etika dengan bujukan moral.

 

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Sebelum mempelajari modul 3.1 setiap mengambil keputusan caranya dengan biasa dan sederhana, tidak melihat dari bermacam-macam aspek, tetapi setelah mempelajari modul ini saya jadi akan belajar jika ada suatu kasus yang menyangkut dilema etika atau bujukan moral saya akan menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, serta 9 langkah pengambilan keputusan.

 

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting , karena dalam setiap pengambilan keputusan yang kita temui tidak hanya seorang yang terlibat saja, tetapi kita juga harus melihat dampak di sekitar lingkungan kita sehingga tercipta lingkungan yang kondusif

Sabtu, 28 Oktober 2023

Tugas Modul 1.4 - Forum Berbagi Aksi Nyata


Oleh: Jaka Prasetya, S.Si, M.Pd 

CGP Angkatan 9 SD Muhammadiyah 1 Surakarta 

Rancangan Tindakan Untuk Aksi Nyata

1. Latar Belakang Tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam proses “menuntun” anak, pendidik sebagai pamong/pendamping diberi kebebasan, dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang pendidik dapat memberikan “tuntunan” agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar dan mencapai tujuan belajar. Ki Hajar menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidikan memfasilitasi anak untuk berkembang sesuai zamannya tanpa harus kehilangan akar budaya daerahnya. Penanaman karakter dan pembiasaan yang kuat melalui penanaman budaya positif di sekolah menjadi hal yang sangat penting. Walaupun pada dasarnya secara umum semua warga sekolah sudah memiliki nilai-nilai positif. Peran keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama dalam pembentukan budi pekerti dan karakter anak. Namun, kita perlu menerapkan pembiasaan-pembiasaan baik tersebut di lingkungan sekolah sebagai langkah nyata membentuk budaya yang positif sebagai penguat pondasi karakter dari pendampingan orang tua di rumah. Budaya Positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu menuntun anak dengan segala kodrat yang ada agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Penerapan budaya positf disekolah merupakan salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan nasional. Salah satu targetnya membentuk karakter siswa. Langkah awal yang dilakukan untuk membangun budaya positif adalah membuat kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif di kelas. Dalam menciptakan Budaya Positif di sekolah dibutuhkan kolaborasi antara guru dengan kepala sekolah, rekan sejawat, orang tua, lingkungan masyarakat serta tentunya dengan murid itu sendiri. Dengan diterapkannya Budaya positif tersebut diharapkan murid akan memiliki karakter yang kuat sesuai dengan nilai-nilai kebajikan yang tercermin dalam Profil Pelajar Pancasila. 

 

2. Tujuan Aksi nyata ini bertujuan memfasilitasi murid untuk dapat menyampaikan aspirasinya dan melaksanakan keyakinan yang telah disepakati atas kesadaran dirinya dengan penuh tanggung jawab, mewujudkan murid yang memiliki karakter positif sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, membantu proses belajar mengajar, membangun hubungan positif dan kedekatan antara guru dengan murid, membiasakan murid menerapkan budaya positif sehingga menjadi karakter positif. 

 

3. Tolak Ukur Kegiatan aksi nyata ini dikatakan berhasil apabila telah memenuhi tolak ukur jika murid dapat melaksanakan keyakinan yang telah disepakati dengan kesadaran diri, terwujudnya pembiasaan-pembiasaan baik sehingga tercermin karakter Profil Pelajar Pancasila. Murid aktif dan semangat belajar. Guru dan murid saling menyayangi dan menghormati serta saling peduli 

 

 4. Linimasa Tindakan 

 Mengajukan gagasan kepada Kepala Sekolah 

 Mendiskusikan langkah konkrit yang akan diambil 

 Menentukan jadwal koordinasi dan sosialisasi penerapan budaya positif

 Membuat kesepakatan untuk mewujudkan kelas berkarakter 

 Mendesain kesepakatan kelas 

 

5. Dukungan yang Dibutuhkan Dukungan dari Kepala Sekolah, rekan sejawat dan murid agar rencana tindakan yang telah disusun dapat dilaksanakan dengan baik (kolaborasi). Sarana dan prasarana untuk menumbuhkan Budaya Positif di sekolah (memanfaatkan kekuatan/ketersediaan sarana dan prasarana). Dukungan dari orang tua dalam melakukan Budaya Positif di rumah (kolaborasi) 

 

 6. Deskripsi Aksi Nyata Aksi nyata yang dilakukan ini, pertama guru melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kepala Sekolah dan rekan sejawat tentang rencana tindakan yang akan dilakukan. Langkah selanjutnya adalah melakukan tindakan aksi nyata sesuai yang telah direncanakan. Pada tanggal 9 Oktober 2023, CGP menyampaikan rencana Aksi Nyata kepada kepala sekolah. Dalam kegiatan ini, kepala sekolah menyetujui rencana pengimbasan Modul 1.4 Budaya Positif yang diajukan oleh CGP. Setelah itu, CGP menyusun persiapan kegiatan pengimbasan, meliputi proposal kegiatan pengimbasan, materi pengimbasan, dan mengundang kepala sekolah dan rekan guru untuk menjadi peserta pengimbasan. Kegiatan pengimbasan Modul 1.4 Budaya Positif dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 25 Oktober 2023 yang dihadiri oleh wakil kepala sekolah, sejumlah guru dan tenaga kependidikan SD Muhammadiyah 1 Ketalan Surakarta. Dalam kegiatan ini CGP menyampaikan materi yang dipelajari pada Modul 1.4 Budaya Positif di Sekolah. 

Materi tersebut antara lain : 

1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal 

2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi 

3. Keyakinan Kelas 

4. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas 

5. Restitusi - Lima Posisi Kontrol 

6. Restitusi - Segitiga Restitusi 

Selain itu, CGP juga menyampaikan aksi nyata yang telah dilakukan di kelasnya yaitu praktik segitiga restitusi dan pembuatan kesepakatan kelas. Kegiatan Aksi Nyata selanjutnya adalah mengajak warga sekolah untuk menyusun keyakinan kelas di kelasnya masing-masing. Dengan disusunnya keyakinan kelas ini, seluruh warga sekolah diharapkan dapat meyakini setiap rumusan keyakinan kelas dan menerapkannya sehingga Budaya Positif dapat segera tercipta di sekolah. Dari kegiatan tersebut para guru di mendapatkan pengalaman dan memahami konsep - konsep budaya positif untuk dijadikan referensi dalam mengimplementasikan budaya positif di kelasnya masing-masing dan di lingkungan sekolah.

Selasa, 17 Oktober 2023

KHUTBAH JUMAT: MUSLIM LEVEL PINGGIRAN

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَى قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ المُؤْمِنِيْنَ، وَجَعَلَ الضِّياَقَ عَلَى قُلُوْبِ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ اْلحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلمِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ. أَيُّهاَ اْلمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ Di zaman Nabi ﷺ terdapat sebuah fenomena, yang membuat Allah  menurunkan firman-Nya yang berkaitan dengan masalah tersebut. Yakni Fenomena tentang keberadaan sebagian manusia yang masuk Islam, tapi hanya di pinggiran (muslim pinggiran) Allah  berfirman QS Al-Hajj: 11, وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi/pinggiran; فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ maka jika ia memperoleh kebaikan (, Yakni kebaikan dunia berupa kelapangan dan kesehatan serta kesejahteraan rezeki lancar dan harta yang banyak), ia tetap dalam keislamannya(tetap dalam ibadah) وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ Namun jika ia ditimpa oleh suatu bencana (musibah dan susahnya kehidupan), ia berbalik arah ke belakang (murtad dan kembali pada kekafiran). خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” [Al-Hajj: 11]. Berkaitan dengan ayat ini, Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah kisah tentang orang-orang yang datang ke Kota Madinah untuk memeluk Islam. Dan mereka mengukur agama dengan materi dunia. Abdullah bin Abbas r.a mengatakan, كَانَ الرَّجُلُ يَقْدُمُ المَدِيْنَةَ، “Dulu orang yang datang ke Kota Madinah (untuk memeluk Islam). فَإِنْ وَلَدَتْ اِمْرَأَتُهُ غُلَامًا، وَنَتِجَتْ خَيْلُهُ، قَالَ: هَذَا دِيْنٌ صَالِحٌ. (Setelah berlalu beberapa lama masuk Islam), kalau istrinya melahirkan anak laki-laki dan kudanya melahirkan. Ia berkomentar, ‘Ini agama yang baik’. وَإِنْ لَمْ تَلِدْ امْرَأَتُهُ، وَلَمْ تَنْتَجْ خَيْلَهُ قَالَ: هَذَا دِيْنُ سُوْءٍ. Tapi, kalau istriya tidak melahirkan. Demikian juga ternak kudanya tidak melahirkan. Ia berkomentar, ‘Ini agama yang jelek’.” Allah Ta’ala menyebut orang yang memeluk Islam dengan cara pandang seperti ini dengan berada di pinggiran. Mengapa? Karena dia tidak serius menjadi seorang muslim. Tidak serius ketika beragama. Dan akan mudah keluar dari agamanya. Sehingga digambarkan oleh Allah Ta’ala, orang seperti ini berada di bagian tepi. Keluar dan masuk dengan mudahnya hanya karena standar duniawi. Dan di antara fenomena yang kita saksikan sekarang, dimana banyak orang dengan mudahnya murtad keluar dari Islam karena dia tidak mendapatkan keuntungan materi dari agama Islam. dia mungkin dipengaruhi oleh pemikiran yang lain atau oleh agama lain atau karena faktor ekonomi, lalu dia pindah agama. Orang seperti ini adalah contoh dimana dia beragama Islam tapi hanya berada di pinggiran. Dalam konteks yang lebih luas, dijumpai banyak orang yang tidak serius tatkala dia memeluk Islam, yakni ia tidak perhatian dengan apa kewajiban yang harus dilakukan sebagai seorang muslim. Tidak faham Shalat, wudhu, mandi wajib, ibadah jum’at dll. Yang dia tahu, namanya hidup ya ngurusi dunia. Dalam pikirannya hidup itu intinya adalah bagaimana bisa makan, bagaimana punya kendaraan dan rumah. Sebagai mukmin, kita mengetahui bahwasanya hidup ini tidak sekali. Akan ada kehidupan yang kedua. Yang di kehidupan kedua itu tidak ada lagi kegiatan beramal. Yang ada hanyalah hisab atau perhitungan. Kesempatan kita untuk mendekat kepada Allah dalam bentuk amal hanyalah di dunia. Oleh karena itu, seorang muslim wajib menyadari bahwasanya beragama itu karena menjalankan perintah dari Allah Sang pemilik agama ini. Dan Allah memiliki syariat yang harus dikerjakan dan dihindari. Karena itu, tidak boleh kita hanya menjadi muslim level pinggiran saja. Allah tidak akan memberikan kesempurnaan agama kecuali hanya kepada hamba-Nya yang Dia cintai. Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda, إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، “Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cintai saja.” Karena itu, kita lihat baik muslim maupun non muslim mendapatkan kenikmatan dunia. Sementara taufik untuk paham agama dan mengamalkannya hanya diberikan Allah kepada siapa yang Dia cintai. Dalam hadits lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda, مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama.” [Muttafaqun ‘alaihi]. Kalau sudah tidak ada keinginan, tidak ada rasa cinta terhadap ilmu agama, maka dia berada di bagian paling tepi dari agama ini. Dan ini posisi yang sangat berbahaya. Karena menjadi sasaran setan. Dengan demikian, agar kita tidak menjadi muslim pinggiran yang mudah ditarget oleh setan dan bala tentaranya adalah dengan cara mempelajari agama. Karena belajar agama adalah mengenali panduan bagaimana semestinya mengarungi kehidupan kita di dunia untuk di akhirat nanti. Ada sebuah pesan yang disampaikan oleh sahabat Abu Darda radhiallahu ‘anhu, كُنْ عَالِمًا ، أَوْ مُتَعَلِّمًا ، أَوْ مُسْتَمِعًا ، أَوْ مُحِبًّا ، “Jadilah seorang alim atau seorang yang mau belajar, atau seorang yang sekedar mau dengar, atau seorang yang sekedar suka, وَلاَ تَكُنْ الخَامِسَةَ فَتَهْلَكُ. janganlah jadi yang kelima, krn akan hancur مَنِ الخَامِسَةُ ؟ قال : المبْتَدِعُ yang kelima itu apa. “Janganlah jadi ahli bid’ah (yang beramal asal-asalan tanpa panduan ilmu, pen.) (Al-Ibanah Al-Kubra karya Ibnu Batthah) Semoga Alloh berikan taufiq pd kita utk tetap istiqomah di atas keislaman. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا وَأَجْدَادِنَا، وَسَائِرِ أَهْلِيْنَا وَقَرَابَاتِنَا، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِّلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا ، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعْنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا ، وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَأَخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ Disadur dari Khotbah Jum'at.com

Jumat, 24 Mei 2019

Do’a-do’a Nabi Memohon Perlindungan dari Beberapa Perkara Buruk

Oleh Ust. 

stormyBeberapa do’a dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang bisa dibaca untuk memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari beberapa perkara buruk :
1. Memohon perlindungan dari kemungkaran akhlak
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ سُلَيْمَانَ، بِالْفُسْطَاطِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مُحْرِزٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ مِسْعَرِ بْنِ كِدَامٍ، عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلاقَةَ، عَنْ عَمِّهِ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الأَخْلاقِ، وَالأَهْوَاءِ، وَالأَسْوَاءِ، وَالأَدْوَاءِ “
Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Al-Hasan bin Sulaimaan -di Fusthaath-, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Muhriz, telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, dari Mis’ar bin Kidaam, dari Ziyaad bin ‘Ilaaqah, dari Pamannya[1], ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allaahumma jannibniy munkaraatil akhlaaq, wal ahwaa’, wal aswaa’, wal adwaa’ (Ya Allah, hindarkanlah diriku dari berbagai macam kemungkaran akhlak, hawa-hawa nafsu, kejelekan-kejelekan dan penyakit-penyakit).”
[Shahiih Ibnu Hibbaan 3/240][2]
Diriwayatkan pula oleh At-Tirmidziy (Jaami’ At-Tirmidziy no. 3591)[3]; Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/532)[4]; Ath-Thabaraaniy (Mu’jam Al-Kabiir no. 36); Ibnu Abi ‘Aashim (As-Sunnah no. 13)[5]; Al-Baihaqiy (Syu’abul Iimaan no. 8540); Al-Bazzaar (Musnad no. 3706); Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy (Hilyatul Auliyaa’ 7/278).
2. Memohon perlindungan dari hilangnya nikmat dan kedatangan adzab
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبُو زُرْعَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullaah bin ‘Abdil Kariim Abu Zur’ah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Bukair, telah menceritakan kepadaku Ya’quub bin ‘Abdirrahman, dari Muusaa bin ‘Uqbah, dari ‘Abdullaah bin Diinaar, dari ‘Abdullaah bin ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, “Diantara do’a-do’a yang diucapkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah Allaahumma inniy a’uudzubika min zawaali ni’matika wa tahawwali ‘aafiyatika wa fujaa’ati niqmatika wa jamii’i sakhathika (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, hilangnya kesehatan yang Engkau berikan, kedatangan adzabMu yang mendadak, dan semua kemurkaanMu).”
[Shahiih Muslim no. 2742]
Diriwayatkan pula oleh Abu Daawud (Sunan no. 1545); Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/531); An-Nasaa’iy (Sunan Al-Kubraa no. 7900); Al-Bazzaar (Musnad no. 6109).
3. Memohon perlindungan dari jeratan hutang dan genggaman musuh
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ السَّرْحِ، قَالَ: أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي حُيَيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيُّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُو بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ “
Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin ‘Amr bin As-Sarh, ia berkata, telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Huyay bin ‘Abdillaah, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abu ‘Abdirrahman Al-Hubuliy, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash -radhiyallaahu ‘anhuma-, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu pernah berdo’a dengan kalimat-kalimat ini, “Allaahumma inniy a’uudzubika min ghalabatid daini, wa ghalabatil ‘aduwwi, wa syamaatahil a’daa’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari jeratan hutang, genggaman musuh dan kegembiraan musuh-musuh (atas derita kami)).”
[Sunan An-Nasaa’iy Ash-Shughraa no. 5475][6]
An-Nasaa’iy meriwayatkannya pula dalam Al-Kubraa no. 7854 dan no. 7872.
Diriwayatkan pula oleh Ahmad (Musnad 11/189); Ibnu Hibbaan (Shahiih Ibnu Hibbaan no. 1027); Ath-Thabaraaniy (Ad-Du’aa’ no. 1336); Al-Baihaqiy (Ad-Da’awaatul Kabiir no. 294); Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/531).
4. Memohon perlindungan dari hari yang buruk dan pelaku keburukan
حدثنا أَحْمَدُ بْنُ زُهَيْرٍ التُّسْتَرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ الْوَلِيدِ النَّرْسِيُّ، قَالا: ثنا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّكَنِ، ثنا بِشْرُ بْنُ ثَابِتٍ، ثنا مُوسَى بْنُ عَلِيِّ بْنِ رَبَاحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله علىه وسلم يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوءِ فِي دَارِ الْمُقَامَةِ “
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Zuhair At-Tusturiy dan Muhammad bin Shaalih bin Al-Waliid An-Narsiy, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Muhammad bin As-Sakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Tsaabit, telah menceritakan kepada kami Muusaa bin ‘Aliy bin Rabaah, dari Ayahnya, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berdo’a dengan, “Allahumma inniy a’uudzubika min yaumis suu’i, wa min lailatis suu’i, wa min saa’atis suu’i, wa min shaahibis suu’i, wa min jaaris suu’i fiy daaril muqaamah (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hari yang buruk, dari malam yang buruk, dari waktu yang buruk, dari para pelaku keburukan dan dari tetangga yang buruk pada tempat (aku) bermukim).”
[Mu’jam Al-Kabiir no. 810][7]
Dan dari jalan diatas, Ath-Thabaraaniy juga meriwayatkannya dalam Ad-Du’aa’ no. 1338.
5. Memohon perlindungan dari pasangan yang buruk dan makar orang jahat
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ حَمَّادٍ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ الْمَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَلَيَّ رِبًا، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيلٍ مَاكِرٍ عَيْنَهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ تَرْعَانِي، إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا “
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Hammaad Al-Hadhramiy, telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari Muhammad bin ‘Ajlaan, dari Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, diantara do’a Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah, “Allaahumma inniy a’uudzubika min jaaris suu’i, wa min zaujin tusyayyibuniy qablal masyiibi, wa min waladin yakuunu ‘alayya rabban, wa min maalin yakuunu ‘alayya ‘adzaaban, wa min khaliilin maakirin ‘ainahu taraaniy wa qalbuhu tar’aaniy, in ra’aa hasanata dafanahaa, wa idzaa ra’aa sayyi’ata adzaa’ahaa (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang buruk, dari pasangan yang membuat rambutku memutih sebelum waktunya memutih, dari anak yang menjadi tuan bagiku, dari harta yang menjadi adzab bagiku, dari teman ahli makar yang matanya melihatku namun hatinya menjelekkanku, jika ia melihat kebaikan maka ia menyimpannya dan jika ia melihat keburukan maka ia menyebarkannya).”
[Ad-Du’aa’ Ath-Thabaraaniy no. 1339][8]
6. Memohon perlindungan dari penyakit-penyakit ganas
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، أَخْبَرَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئْ الْأَسْقَامِ
Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil, telah menceritakan kepada kami Hammaad, telah mengkhabarkan kepada kami Qataadah, dari Anas, bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berdo’a, “Allaahumma inniy a’uudzubika minal barashi wal junuuni wal judzaami, wa min sayyi’il asqaam (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari penyakit belang, penyakit gila, penyakit kusta dan dari penyakit yang buruk).”
[Sunan Abu Daawud no. 1554][9]
Diriwayatkan pula oleh An-Nasaa’iy (Sunan Ash-Shughraa no. 5493; Al-Kubraa no. 7876); Ahmad (Musnad no. 12592); Ibnu Hibbaan (Shahiih Ibnu Hibbaan no. 1017); Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy (Al-Mukhtarah no. 2131, 2132 dan 2133); Ath-Thayaalisiy (Musnad no. 2120).
7. Memohon perlindungan dari kefaqiran, kehinaan dan kezhaliman
حَدَّثَنَا مُوسَى، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، يَعْنِي ابْنَ سَلَمَةَ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ
Telah menceritakan kepada kami Muusaa, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammaad -yakni Ibnu Salamah-, dari Ishaaq bin ‘Abdillaah bin Abu Thalhah, dari Sa’iid bin Yasaar, dari Abu Hurairah, dahulu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berdo’a, “Allaahumma inniy a’uudzubika minal faqri wal qillati wadz dzillati, wa a’uudzubika an azhlima aw uzhlama (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kefaqiran, kekurangan dan kehinaan, dan aku berlindung kepadaMu dari menzhalimi atau dizhalimi).”
[Al-Adabul Mufrad no. 678][10]
Diriwayatkan pula oleh Abu Daawud (Sunan no. 1544); An-Nasaa’iy (Sunan Ash-Shughraa no. 5460; Al-Kubraa no. 7844); Ibnu Maajah (Sunan no. 3842); Ahmad (Musnad no. 7992); Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/540).
8. Memohon perlindungan dari keburukan yang pernah dilakukan dan belum pernah dilakukan
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى، قَالَا: أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ هِلَالٍ، عَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ الْأَشْجَعِيِّ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَمَّا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَدْعُو بِهِ اللَّهَ؟ قَالَتْ: كَانَ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ 
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Yahyaa dan Ishaaq bin Ibraahiim -dan lafazhnya milik Yahyaa-, keduanya berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Jariir, dari Manshuur, dari Hilaal, dari Farwah bin Naufal Al-Asyja’iy, ia berkata, aku bertanya kepada ‘Aaisyah -radhiyallaahu ‘anha- mengenai do’a yang diucapkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada Allah, ia berkata, beliau dahulu pernah berdo’a, “Allaahumma inniy a’uudzubika min syarri maa ‘amiltu wa min syarri maa lam a’mal (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan perkara yang pernah kulakukan dan dari keburukan perkara yang belum kulakukan).”
[Shahiih Muslim no. 2717]
Diriwayatkan pula oleh Abu Daawud (Sunan no. 1550); An-Nasaa’iy (Sunan Ash-Shughraa no. 1307; Al-Kubraa no. 1231); Ibnu Maajah (Sunan no. 3839); Ahmad (Musnad no. 24162); Ibnu Abi Syaibah (Al-Mushannaf no. 29613).
9. Memohon perlindungan dari siksa kubur dan fitnah Dajjal
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَخْبَرَتْهُ، ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Urwah bin Az-Zubair, dari ‘Aaisyah istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mengkhabarkan kepadanya bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berdo’a dalam shalat, “Allaahumma inniy a’udzubika min ‘adzaabil qabr, wa a’udzubika min fitnatil masiihid dajjaal, wa a’udzubika min fitnatil mahyaa wa fitnatil mamaat. Allaahumma inniy a’udzubika minal ma’tsami wal maghrami (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ‘adzab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah hidup dan fitnah mati. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang).”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 833; Shahiih Muslim no. 588]
10. Memohon perlindungan dari kesurupan syaithan ketika sekarat dan mati terbunuh di jalan Allah dalam keadaan melarikan diri
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ صَيْفِيٍّ مَوْلَى أَفْلَحَ مَوْلَى أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي الْيَسَرِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُو: “ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرَقِ وَالْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا “
Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullaah bin ‘Umar, telah menceritakan kepada kami Makkiy bin Ibraahiim, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullaah bin Sa’iid, dari Shaifiy maulaa Aflah maulaa Abu Ayyuub, dari Abul Yasar[11], bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu pernah berdo’a, “Allaahumma inniy a’uudzubika minal hadmi, wa a’uudzubika minat taraddiy, wa a’udzuubika minal gharaqi wal haraqi wal harami, wa a’udzuubika an yatakhabbathaniy asy-syaithaanu ‘indal mauta, wa a’udzuubika an amuuta fiy sabiilika mudbiiran, wa a’udzuubika an amuuta ladiighan (Ya Allah, sesungguhnya aku belindung kepadaMu dari kehancuran, dan aku berlindung kepadaMu dari kebinasaan, dan aku berlindung kepadaMu dari tenggelam, terbakar dan kepikunan, dan aku berlindung kepadaMu dari dirasuki syaithan ketika sekarat, dan aku berlindung kepadaMu dari mati di jalanMu dalam keadaan melarikan diri, dan aku berlindung kepadaMu dari hewan berbisa).”
[Sunan Abu Daawud no. 1552][12]
Diriwayatkan pula oleh An-Nasaa’iy (Sunan Ash-Shughraa no. 5531; Al-Kubraa no. 7917); Ahmad (Musnad no. 15097); Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/531); Ath-Thabaraaniy (Musnad Asy-Syaamiyyiin no. 1521; Mu’jam Al-Kabiir no. 381; Ad-Du’aa’ no. 1363); Al-Baihaqiy (Ad-Da’awaatul Kabiir no. 271)
11. Memohon perlindungan dari empat hal
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَخِيهِ عَبَّادِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْأَرْبَعِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
Telah mengkhabarkan kepada kami Qutaibah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Sa’iid bin Abu Sa’iid, dari saudaranya, yaitu ‘Abbaad bin Abu Sa’iid, bahwa ia mendengar Abu Hurairah mengatakan, “Dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa, “Allaahumma inniy a’uudzubika minal arba’, min ‘ilmin laa yanfa’u wa min qalbin laa yakhsya’u wa min nafsin laa tasyba’u wa min du’aa’in laa yusma’u (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari empat hal, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari do’a yang tidak didengar).”
[Sunan An-Nasaa’iy Ash-Shughraa no. 5467; Al-Kubraa no. 7820][13]
Diriwayatkan pula oleh Abu Daawud (Sunan no. 1548); Ibnu Maajah (Sunan no. 3837); Ahmad (Musnad no. 8283); Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy (Al-Mukhtarah no. 1721); Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/104).
12. Memohon perlindungan dari berbagai tipu daya syaithan
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ،، قال عبد الله بنُ أَحمد: وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ “، فَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرُ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Muhammad bin Abi Syaibah, ‘Abdullaah bin Ahmad berkata, dan aku mendengarnya dari ‘Abdullaah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail, dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib, dari Abu ‘Abdirrahman, dari ‘Abdullaah (bin Mas’uud) -radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu pernah berdo’a, “Allaahumma inniy a’uudzubika minasy syaithaani, min hamzihi wa naftsihi wa nafkhihi(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari syaithan, dari bisikannya, ludahnya dan tiupannya).” Bisikannya adalah kegilaan, ludahnya adalah sya’ir dan tiupannya adalah kesombongan.
[Musnad Ahmad 6/380][14]
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Maajah (Sunan no. 808); Ibnu Khuzaimah (Shahiih Ibnu Khuzaimah no. 456); Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/207); Ibnu Abi Syaibah (Al-Mushannaf no. 29606; Musnad no. 189); Abu Ya’laa Al-Maushiliy (Musnad no. 4994); Ibnu Abi Haatim (Tafsiir no. 8424); Ath-Thabaraaniy (Ad-Du’aa’ no. 1381).
13. Memohon kelurusan dalam suatu perkara dan berlindung dari keburukan diri
حَدَّثَنَا رَوْحٌ وَعَبْدُ الصَّمَدِ، قَالَا: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ. قَالَ رَوْحٌ: قال: قَالَ: أَخْبَرَنَا الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ، وَامْرَأَةٍ مِنْ قَيْسٍ أَنَّهُمَا سَمِعَا النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَحَدُهُمَا سَمِعْتُهُ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَخَطَئِي وَعَمْدِي “، وقَالَ الْآخَرُ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي
Telah menceritakan kepada kami Rauh dan ‘Abdush Shamad, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammaad, Rauh berkata, Hammaad berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Jurairiy, dari Abul ‘Alaa’, dari ‘Utsmaan bin Abul ‘Aash -radhiyallaahu ‘anhu- dan seorang wanita dari Qais, bahwasanya keduanya mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, salah satu dari keduanya berkata, aku mendengar beliau berdo’a, “Allaahummagh firliy dzanbiy wa khatha’iy wa ‘amdiy (Ya Allah, ampunilah dosaku, kekeliruanku dan kesengajaanku).” Dan berkata yang lainnya, aku mendengar beliau berdo’a, “Allaahumma astahdiika li arsyadi amriy, wa a’udzuubika min syarri nafsiy (Ya Allah, aku memohon petunjukMu kepada perkaraku yang lurus, dan aku berlindung kepadaMu dari keburukan diriku).”
[Musnad Ahmad no. 15835, 17447][15]
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah (Al-Mushannaf no. 29885); Ibnu Hibbaan (Shahiih Ibnu Hibbaan no. 901); Ath-Thabaraaniy (Mu’jam Al-Kabiir no. 8369; Ad-Du’aa’ no. 1392).
14. Memohon dijauhkan dari berbagai dosa sebagaimana jauhnya timur dan barat
حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُو: ” اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ “
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari Ayahnya, dari ‘Aaisyah -radhiyallaahu ‘anha-, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dahulu pernah berdo’a, “Allaahummagh sil khataayaaya bimaa’its tsalji wal baradi, wa naqqi qalbiy minal khataayaaya kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danasi, wa baa’id bainiy wa baina khataayaaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghribi (Ya Allah, bersihkanlah dosa-dosaku dengan salju dan embun, sucikanlah hatiku dari dosa-dosaku sebagaimana Kau sucikan pakaian putih dari kotoran, dan jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Kau jauhkan timur dengan barat).”
[Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 29693][16]
Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabaraaniy (Ad-Du’aa’ no. 1345); Al-Baihaqiy (Ad-Da’awaatul Kabiir no. 207)
Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.
Sumber :
Ad-Du’aa’“, karya Al-Imam Abul Qaasim Ath-Thabaraaniy, tahqiiq : Dr. Muhammad Sa’iid bin Muhammad Hasan Al-Bukhaariy, Daar Al-Basyaa’ir Al-Islaamiyyah -dengan beberapa penambahan-.
Footnotes :
[1] Quthbah bin Maalik radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
[2] Hadits ini sanadnya shahih. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth dalam tahqiq Shahiih Ibnu Hibbaan, kemudian Syaikh Al-Albaaniy dalam Zhilaalul Jannah no. 13, Shahiihul Jaami’ no. 1298 dan Shahiih At-Tirmidziy. Al-Haafizh As-Suyuuthiy dalam Jaami’ Ash-Shaghiir no. 1472 berkata sanadnya hasan.
[3] Dengan matan do’a : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ، وَالْأَعْمَالِ، وَالْأَهْوَاءِ
[4] Dengan matan do’a : اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الأَخْلاقِ، وَالأَهْوَاءِ، وَالأَعْمَالِ وَالأَدْوَاءِ
[5] Dengan matan do’a : اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الأَخْلاقِ، وَالأَهْوَاءِ، وَالأَدْوَاءِ
Walau matan-matannya ada perbedaan, namun semua lafazhnya dapat digunakan dan tidak ada perhatian khusus dari para ulama.
[6] Hasan lighairihi. Dan sanad An-Nasaa’iy ini dha’if karena dalam sanadnya ada Huyay bin ‘Abdillaah, dia adalah Al-Mu’aafiriy Al-Bashriy. Al-Haafizh berkata dia shaduuq yahimu dan disepakati Al-Albaaniy dalam Ash-Shahiihah no. 1541, namun yang benar ia dha’if, Ahmad berkata bahwa hadits-haditsnya diingkari, Al-Bukhaariy berkata “fiihi nazhar”, An-Nasaa’iy berkata “laisa bil qawiy”, Ibnu ‘Adiy berkata “aku berharap tidak mengapa dengannya jika yang meriwayatkannya adalah rawi tsiqah”, sedangkan Ibnu Ma’iin berkata “tidak ada yang salah dengannya”, dan Syu’aib Al-Arna’uuth dalam At-Tahriir 1/337 berkata “dha’if, memerlukan penguat”, dan inilah yang benar.
Ath-Thabaraaniy (Mu’jam Al-Kabiir no. 11882) meriwayatkan syaahid hadits ini, dari jalan ‘Abdullaah bin ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdaan bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Ishaaq Al-Qaluusiy, telah menceritakan kepada kami ‘Abbaad bin Zakariyyaa Ash-Shariimiy, telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Hassaan, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas, secara marfuu’, dan dengan tidak menyebutkan lafazh “wa syamaatahil a’daa'”, melainkan “wa min bawaaril ayyimi, wa fitnatid dajjaal (dari hidup membujang (tidak laku-laku) dan fitnah dajjal)”.
Demikian diriwayatkan pula oleh Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy (Al-Mukhtarah no. 4428); Ad-Daaruquthniy (Al-Afraad no. 15).
Dan sanadnya dha’if, ‘Abbaad bin Zakariyyaa tidak dikenal dan tidak ditemukan biografinya, demikian dikatakan Abul Hasan Al-Haitsamiy dalam Majma’ Az-Zawaa’id 10/146, kemudian disepakati Al-Albaaniy dalam Adh-Dha’iifah 4/152.
Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan di dua tempat dalam Mushannaf-nya;
– Telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Manshuur, dari Mujaahid, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sabdanya, dengan hanya tambahan lafazh “wa bawaaril ayyim”. (Al-Mushannaf no. 29639)
– Telah menceritakan kepada kami Ghundar, dari Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Ibnu Abi Lailaa, sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, tanpa lafazh “wa syamaatahil a’daa'”. (Al-Mushannaf no. 29641)
Dan kedua sanadnya mursal shahih hingga Mujaahid dan Ibnu Abi Lailaa.
Al-Bukhaariy dalam Shahiih-nya (no. 6369) meriwayatkan dari jalan Anas bin Maalik -radhiyallaahu ‘anhu-; Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Sulaimaan, telah menceritakan kepadaku ‘Amr bin Abu ‘Amr, aku mendengar Anas bin Maalik berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari duka cita dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, ketakutan dan kebakhilan, serta lilitan hutang dan genggaman musuh.”
Dari semua jalan-jalan periwayatan diatas, maka hadits ini adalah hasan lighairihi.
[7] Abul Hasan Al-Haitsamiy berkata, “Para perawinya adalah para perawi tsiqah.” (Majma’ Az-Zawaa’id 7/223), dan disepakati Al-‘Ajluuniy (Kasyful Khafaa’ 1/218). Dihasankan Al-Haafizh As-Suyuuthiy dalam Al-Jaami’ush Shaghiir no. 1520.
[8] Hasan. Dihasankan Syaikh Al-Albaaniy dalam Ash-Shahiihah no. 3137.
[9] Para perawinya adalah para perawi Ash-Shahiihain, dan hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth berkata, “Shahih sesuai syarat Imam Muslim.” (Tahqiiq Shahiih Ibnu Hibbaan 3/295).
[10] Para perawinya adalah para perawi Ash-Shahiihain, dan hadits ini shahih. Syaikh Al-Albaaniy berkata, “Sanadnya jayyid.” (Takhriij Al-Misykaah no. 2401).
[11] Ka’b bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhu, sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam.
[12] Al-Imam Al-Haakim berkata, “Sanadnya shahih namun tidak dikeluarkan Al-Bukhaariy dan Muslim.” Syaikh Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Shahiih Abu Daawud, dan Shahiihul Jaami’ no. 1282.
[13] Sanadnya hasan, dan Syaikh Al-Albaaniy dalam Takhriij Al-Misykaah no. 2399 berkata shahih lighairihi.
[14] Hasan lighairihi. Dan sanad Ahmad ini dha’if dikarenakan ‘Athaa’ bin As-Saa’ib, ia tsiqah namun mengalami ikhtilath di akhir umurnya, Muhammad bin Fudhail termasuk diantara para perawi yang mendengar dari ‘Athaa’ setelah ikhtilath :
قال : وروى عن عطاء بن السائب؟ قال يحيى : إن جريرا وإبن فضيل وهؤلاء، سمعوا من عطاء بن السائب بآخرة. فقلت ليحيى : كان عطاء قد خلط؟ قال : نعم . وحماد بن سلمة سمع من عطاء بن السائب قديما قبل الإختلاط
(Ibnul Junaid) berkata, “Dan (Jariir bin ‘Abdul Hamiid) meriwayatkan dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib?” Yahyaa (bin Ma’iin) berkata, “Sesungguhnya Jariir, Ibnu Fudhail dan mereka mendengar dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib di masa-masa akhir.” Maka aku bertanya pada Yahyaa, “‘Athaa’ telah mengalami ikhtilath?” Yahyaa menjawab, “Ya, dan Hammaad bin Salamah mendengar dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib di awal sebelum ikhtilathnya.” [Su’aalaat Ibnul Junaid li Yahyaa bin Ma’iin hal. 478 no. 837]
Abu ‘Abdirrahman adalah ‘Abdullaah bin Habiib bin Rabii’ah Al-Kuufiy, Abu ‘Abdirrahman As-Sulamiy, Al-Haafizh berkata “tsiqah tsabt”.
Muhammad bin Fudhail mempunyai beberapa mutaba’ah, antara lain dari :
‘Ammaar bin Ruzaiq, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya no. 3818; Telah menceritakan kepada kami Abul Jawwaab, telah menceritakan kepada kami ‘Ammaar bin Ruzaiq, dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib, dari Abu ‘Abdirrahman, dari ‘Abdullaah bin Mas’uud, secara marfuu’.
–‘Ammaar bin Ruzaiq Adh-Dhabbiy At-Tamiimiy, Abul Ahwash Al-Kuufiy, Al-Haafizh berkata “tidak mengapa dengannya”. Namun tidak ada keterangan ia mendengar dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib sebelum atau sesudah ikhtilathnya, maka wajib tawaqquf dalam hal ini, namun sanad ini bisa menjadi i’tibar riwayat Ibnu Fudhail.–
Warqaa’, diriwayatkan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iimaan no. 2066 dan Ad-Da’awaatul Kabiir no. 286 dari jalan Al-Haakim Abu ‘Abdillaah; Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Thayyibah, telah menceritakan kepada kami Warqaa’, dari ‘Athaa’ bin As-Saa’ib, dari Abu ‘Abdirrahman, dari ‘Abdullaah, secara marfuu’.
–Warqaa’ bin ‘Umar bin Kulaib Al-Yasykuriy, Abu Bisyr Al-Madaa’iniy Al-Kuufiy, Al-Haafizh berkata “shaduuq, pada haditsnya dari Manshuur (bin Al-Mu’tamir) lemah”. Dan tidak ada pula keterangan apakah Warqaa’ mendengar ‘Athaa’ sebelum atau setelah ikhtilathnya. Namun sanad ini pun bisa dijadikan i’tibar riwayat ‘Ammaar dan Ibnu Fudhail.
Maka, jika dikumpulkan sanad-sanad dari jalan Ibnu Mas’uud ini, haditsnya akan menjadi hasan lighairihi. Syaikh Syu’aib Al-Arnaa’uth menshahihkan hadits ini dalam ta’liq Musnad Ahmad 6/380.
[15] Hadits shahih. Abul Hasan Al-Haitsamiy berkata, “Para perawinya adalah para perawi Ash-Shahiih.” (Majma’ Az-Zawaa’id 10/180), dan Syaikh Al-Albaaniy menshahihkannya dalam Shahiih Al-Mawaarid no. 2059.
[16] Hadits shahih. Hadits ini adalah bagian dari hadits riwayat Imam Al-Bukhaariy yang diriwayatkan dalam Shahih-nya no. 6377 dan Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2707.