Jumat, 01 April 2011

April Mop Yang Memilukan

April Mop Yang Memilukan

Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami Hafizhohulloh

Apabila ditanyakan kepada kaum muslimin apa hukum menipu, berbohong, usil yang menyakitkan hati atau menyakiti raga orang lain, tentu jawabannya adalah haram. Hal ini tentu sudah maklum.

Sekarang, tahukah Anda, saudara maupun saudariku kaum muslimin, bahwa ada suatu hari dimana berbohong, menipu dan menjaili orang lain, siapa pun, diperbolehkan? Hari April Mop jawabannya. Aneh kan? Lebih aneh lagi bila ternyata ada sebagian saudara kita kaum muslimn yang turut serta dalam even ini. Allohu yahdiihim waiyyana.

Apa Itu Hari April Mop?

April Mop, dikenal dengan April Fools’ Day dalam bahasa Inggris, diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluarga, musuh, teman bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu. Di beberapa negara seperti Inggris dan Australia serta Afrika Selatan, lelucon hanya boleh dilakukan sampai siang atau sebelum siang hari. Seseorang yang memainkan trik setelah tengah hari disebut sebagai “April Mop”. Namun di tempat lain seperti Kanada, Perancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat lelucon bebas dimainkan sepanjang hari. Hari itu juga banyak diperingati di internet. (Wikipedia Indonesia).

Pada hari tersebut orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Mereka melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka, alias jail-jailan. Bila ada yang menyoal, biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop adalah hari di mana boleh dan sah-sah saja menipu siapa saja yang diinginkan, mulai dari teman, saudara, sampai orang tua sekalipun. Allohul musta’an.

Tentunya, siapa saja yang terkena target dijaili seperti ini tentu minimalnya akan terusik hatinya. Bisa saja ia akan marah, kesal, mengumpat dan semisalnya. Akhirnya ia pun terdorong untuk membalas atau melakukan hal serupa kepada orang lainnya.

Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day yang sudah jelas keburukannya, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Yang sangat disayangkan, masyarakat dengan mudahnya meniru kebudayaan Barat ini tanpa menilai terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya, mendatangkan rohmat atau justru berbuah petaka.

Sejarah April Mop

Tahukah Anda, bahwa perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kekonyolan tersebut, sesungguhnya berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan?!

Terlepas dari fersi sejarah yang berbeda, yang pasti dalam salah satu fersinya disebutkan bahwa April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah berdarah Muslim Spanyol di tahun 1487-an, atau bertepatan dengan 892 H. Sejak dideklarasikannya Islam pada abad ke- 8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad di negeri tersebut. Setelah beberapa tahun, bahkan beberapa abad berlalu Spanyol di bawah syari’at Islam, musuh-musuhpun, kaum kafir yang ada disekitar Spanyol, terus menerus berusaha menggempur benteng syari’at Islam yang kuat mewarnai sisi kehidupan masyarakat Spanyol waktu itu. Akhirnya dengan tipu daya dan kebohongan, dengan tipuan dan omong kosongnya mereka berhasil membantai ribuan kaum muslimin Spanyol hanya dalam sehari.

Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Nashrani setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day).

Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat Nashrani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka, alias jail-jailan.

Arti April Mop Bagi Umat Islam

Main jail-jailan dengan aksi tipu menipu dan bohong berbohong di hari April Mop berarti bukan sekedar main-main yang tak berarti. Ia selain sebuah tragedi berdarah yang memilukan hati setiap muslim dan muslimah, juga sebentuk dengan perbuatan maksiat dan dosa. Bisa jadi ia merupakan pelegal pelakunya sebagai seoang penipu ulung dan seorang pendusta kelas kakap. Rosululloh n\ bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hati-hatilah kalian dari berdusta. Sungguh dusta akan membawa pelakunya menuju perbuatan dosa, sedangkan perbuatan dosa itu akan membawa pelakunya menuju neraka. Dan tiadalah seorang pun yang terus-terusan berdusta dan selalu hendak berdusta selain tentunya ia akan ditetapkan di sisi Alloh sebagai seorang pendusta” (HR. Muslim no: 2607)

Bagi umat Islam, April Mop tentu tak layak diperingati. Bahkan haram diperingati. Sebab ia merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, sangat tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapa pun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka sesungguhnya ia tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Wailallohil musytaka. Hanya kepada-Mu, ya Alloh, kami mengadu.

Rabu, 30 Maret 2011

Keluarga Muslim Keluarga Bahagia Sejahtera (REVISI)

Keluarga Muslim Keluarga Bahagia Sejahtera (REVISI)

Di susun oleh: Abu Ammar al-Ghoyami

Pembahasan kita kali ini adalah pembahasan yang sangat penting karena keutamaan bab yang kita bahas ini sangat banyak. Bab ini ialah bab yang membahas apa yang pernah disabdakan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam:

{ أما والله إني لأخشاكم لله، وأتقاكم له، لكني أصوم وأفطر، وأصلي وأرقد، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني } [متفق عليه].

‘Demi Alloh, ketahuilah, aku adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Alloh, namun begitu aku pun terkadang berpuasa (sunnah) dan terkadang tidak berpuasa, (waktuku kubagi untuk) sholat dan tidur, dan akupun menikahi beberapa kaum wanita, maka siapa yang membenci sunahku ia bukan termasuk golonganku’ (Muttafaqun alaihi)

Iya. Bab yang kita bahas adalah bab rumah tangga yang di awali dengan sebuah pernikahan. Bab ini penting sebab pernikahan merupakan sunnah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam yang tiada seorang muslim pun yang boleh membencinya lalu meninggalkannya. Sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di atas.

Selain itu, pembahasan rumah tangga ialah pembahasan tentang dunia pernikahan yang sangat luas dan komplek permasalahannya. Dan pernikahan merupakan bentuk pemenuhan seruan Alloh, Dzat Mahamencipta azza wajalla yang berfirman:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS an-Nur 32)

Sedemikian pentingnya pernikahan ini, sampai Alloh azza wajalla menjamin kecukupan hidup bagi siapa saja yang menikah karena-Nya subhanahu wata’ala. Yaitu yang segera menikah karena hendak memelihara diri dari bermaksiat kepada-Nya azza wajalla. Sebagaimana jelas disebutkan di dalam firman-Nya di atas. Seperti yang hendak menikah sebab ingin menahan diri dari seruan nafsu syahwatnya terhadap wanita, dan lainnya.

Namun hal ini bukan berarti bahwa pernikahan itu dilangsungkan hanya untuk mengharap kecukupan hidup semata. Apalagi hanya diharapakan kecukupan materi, alias harta. Kehidupan yang ideal setelah pernikahan bukan terletak pada materi. Oleh karenanya kebahagiaan hidup berumah tangga pun tidak didasarkan kepadanya, namun didasarkan pada ada atau tidak adanya sakinah, mawaddah dan rohmah dalam rumah tangga tersebut.

Rumah Tangga Ideal

Rumah tangga ideal ialah yang terwujud padanya nilai-nilai agung dalam firman Alloh subhanahu wata’ala:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.ar-Rum[30]: 21)

Syeikh Abdurrohman as-Sa’di berkata: .. supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang…dengan adanya beberapa hal yang terwujud atas adanya pernikahan yang menjadi sebab-sebab mawaddah, cinta dan rohmah kasih sayang. Dimana dengan adanya istri terdapat kesenangan bersama, kelezatan serta manfaat yang didapatkan dengan adanya anak-anak serta mendidik mereka. terdapat pula ketenangan jiwa terhadap istri, yang tidak didapati mawaddah, cinta dan rohmah, kasih sayang antara siapa saja umumnya sebagaimana antara dua orang pasutri”

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلُ النِّكَاحِ

Tidak pernah didapati bunga-bunga cinta antara dua orang yang memadu cinta sebagaimana pada dua orang yang telah menikah[1]

Sementara kita semua maklum, bahwa ketenangan jiwa, ketentramannya, serta cinta dan kasih sayang itu tak bisa dibeli dengan materi. Bahkan sebaliknya, semua itu bisa saja dimiliki oleh mereka-mereka yang hidup berumah tangga meski dengan sedikit materi atau tanpanya sekali pun. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagaiaan hidup berumah tangga dan kesejahteraannya tidak diukur dengan banyak atau sedikitnya harta.

Kebahagiaan dan Kesejahteraan Keluarga Muslim

Banyak orang menyangka bahwa kebahagiaan keluarga muslim dan kesejahteraannya di ukur dengan materi. Artinya mereka berpendapat bahwa apabila ada materi keluarga pun akan bahagaia dan sejahtera dan apabila tidak ada maka tidak ada pula kebahagaiaan dan kesejahteraan. Benarkah pernyataan dan pemahaman demikian?

Disebutkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa standar kebahagiaan dan kesejahteraan ideal seorang mukmin ada pada empat perkara. Beliau bersabda:

أربع من السعادة : المرأة الصالحة ، والمسكن الواسع ، والجار الصالح ، والمركب الهنيء ، وأربع من الشقاوة : الجار السوء ، والمرأة السوء ، والمسكن الضيق ، والمركب السوء

“empat perkara standar kebahagiaan; istri sholihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara standar kesengsaraan; tetangga yang buruk (akhlak), istri yang buruk (akhlak), tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang buruk” (Shohih ibnu Hibban no: 4107, dishohihkan oleh al-Albani dalam shohihut targhib no: 2576)

Namun itu adalah standar umumnya, bukan yang harus. Artinya umumnya sebuah keluarga apabila ada empat hal tersebut akan bahagia, meski ada, dan mungkin banyak juga keluarga yang keempat hal tersebut ada papadanya namun tidak terwujud di dalamnya kebahagiaan dan kesejahteraan.

Ini menunjukkan bahwa keempat hal tersebut bukan hal yang menentukan sebuah kepastian. Oleh karenanya Alloh tidak menjadikan kaum mukminin seluruhnya memiliki empat hal tersebut. Dan Dia azza wajalla pun tidak menjadikan seluruh kaum mukminin miskin dari keempat hal tersebut. Namun ada sebagian yang memiliki seperti ada pula sebagiannya yang lain yang tidak memilikinya. Namun tetap saja banyak di antara rumah tangga dari masing-masing keadaan tersebut yang juga bisa meraup kebahagiaan.

Oleh karena itulah di dalam riwayat yang lain, beliau menyebutkan standar minimal kebahagiaan seorang mukmin dengan sabda beliau:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا

“siapa yang berpagi-pagi dalam keadaan aman pada rumah, harta, dan keluarganya, sehat badannya, memiliki bekal makanan yang cukup di hari itu, seolah-olah dunia telah dikumpulkan buatnya seluruhnya” (HR Tirmidzi no: 2346, dihasankan oleh al-Albani dalam shohihut targhib no: 833)

Artinya, bahwa tanpa sesuatu atau materi yang lebih melebihi kebutuhan sehari saja pun seorang yang beriman akan bisa meraup kebahagiaan dan kesejahteraan. Ini jelas sekali menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kesehjahteraan itu tidak di ukur dengan materi. Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan standar kebahagiaan dan kesejahteraan seorang mukmin terkait dengan materi, namun kebahagiaan dan kesejahteraan seorang mukmin sangat terkait dengan qona’ah hati.

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh radhiyallahu anhu, bahwa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »

“kecukupan bukan pada banyaknya harta, namun kecukupan itu adalah kecukupan jiwa” (HR Bukhori no: 6081 dan Muslim no: 1051)

Jadi, kebahagiaan sebuah keluarga muslim terletak pada qona’ah, terletak pada ada dan tidak adanya iman dan taqwa. Semakin kuat iman dan semakin tinggi takwa, semakin bahagia dan sejahteralah sebuah keluarga. Dan sebaliknya, semakin rapuh iman dan semakin lemah taqwa, sebanyak apapun materi yang telah dikumpulkan kiranya takkan bisa membeli kebahagiaan dan kesejahteraan. Ini disebabkan telah hilangnya jiwa qona’ah mereka.

Boleh juga dikatakan, bahwa tidak akan mendapatkan kebahagiaan selain sebuah rumah tangga yang dibangun di atas asas islam. Ialah rumah tangga muslim yang beriman dan bertaqwa. Itulah rumah tangga yang akan berbahagia dan sejahtera.

Allohumma, ya Alloh. Karuniakanlah kepada keluarga kami kebahagiaan dan kesejahteraan sebagaimana yang Engkau kehendaki, bukan kebahagiaan dan kesejahteraan yang banyak diimpikan manusia. Amin.


[1] HR. Ibnu Majah (no: 1847), al-Hakim (II/160), dan al-Baihaqi (VII/78) dishohihkan oleh Syeikh al-Albani v\ dalam Shohih Ibnu Majah (no: 1497)

Orang Mukmin Tidak Pernah Stres

Orang Mukmin Tidak Pernah Stres

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ}

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35).

Imam Ibnu Katsir – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa[1].”

Kebahagiaan hidup dengan bertakwa kepada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ilmu-Nya yang maha tinggi dan hikmah-Nya[2] yang maha sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nya-lah seseorang bisa meraih kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat. Allah berfirman,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[3] hidup bagimu.” (QS. Al-Anfaal: 24).

Imam Ibnul Qayyim – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan (seperti) hewan yang juga dimiliki oleh binatang yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin[4].”

Inilah yang ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya firman-Nya,

{مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. ” (QS. ِِAn-Nahl: 97).

Dalam ayat lain Dia berfirman,

{وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ}

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti).” (QS. Huud: 3).

Ketika mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dalam ayat-ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat[5].

Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menggambarkan ibadah shalat, yang dirasakan sangat berat oleh orang-orang munafik, sebagai sumber kesejukan dan kesenangan hati, dalam sabda beliau shallallahu ‘alahi wa sallam,

“وجعلت قرة عيني في الصلاة”

“Dan Allah menjadikan qurratul ‘ain bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat”[6].

Makna qurratul ‘ain adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati[7].

Sikap seorang mukmin dalam menghadapi masalah

Dikarenakan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dan dengan keyakinannya ini Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ}

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah, Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghaabun:11).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Makna ayat ini: Seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya[8].”

Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmah-Nya yang maha sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengahadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

{وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ}

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan” (QS. An-Nisaa’:104).

Maka orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala[9].”

Hikmah cobaan

Disamping sebab-sebab yang kami sebutkan di atas, ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam meringankan semua kesusahan yang dialami seorang mukmin dalam kehidupan di dunia, yaitu dengan dia merenungkan dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang diberlakukan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Karena dengan merenungkan hikmah-hikmah tersebut dengan seksama, seorang mukmin akan mengetahui dengan yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi dirinya, dalam rangka menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Semua ini, disamping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya. Dan dengan sikap ini Allah Subhanahu wa Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi,

“أنا عند ظنّ عبدي بي”

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku[10].”

Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala[11].

Di antara hikmah-hikmah yang agung tersebut adalah:

1- Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya, yang kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut akan meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala [12].

Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala) adalah para Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Subhanahu wa ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)[13].”

2- Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang[14].

Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

“Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya[15].”

3- Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Dan inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti[16].

Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

“كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل”

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan[17].”

Penutup

Sebagai penutup, kami akan membawakan sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jama’ah di jamannya, syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah merahmatinya –. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim berkata, “Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi bersamaan dengan itu semua (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat), maka dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang[18].”

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, 15 Rabi’ul awwal 1430 H.

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthani,M.A.
Artikel www.manisnyaiman.com


[1] Tafsir Ibnu Katsir 5/342- cet daru thayyibah.

[2] Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, yang ini bersumber dari

kesempurnaan ilmu Allah I, lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 131 dan 946.

[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/34.

[4] Kitab Al-Fawa-id, hal. 121- cet. Muassasatu ummil qura’.

[5] Al waabilush shayyib hal. 67- cet. Darul kitaabil ‘arabi.

[6] HR. Ahmad 3/128, An-Nasa-i 7/61, dan imam-imam lainnya, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, di-shahih-kan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahihul jaami’ish Shagiir hal. 544.

[7] Lihat Fatul Qadiir, karya Imam Asy Syaukaani (4/129).

[8] Tafsir Ibnu Katsir (8/137).

[9] Ighaatsatul lahfan (hal. 421-422 – Mawaaridul amaan).

[10] HR. Bukhari no. 7066- cet. Daru Ibni Katsir dan Muslim no. 2675.

[11] Lihat kitab Faidhul Qadiir 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi 7/53.

[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan hal. 422 – Mawaaridul amaan.

[13] HR Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Hakim 1/99 dan lain-lain, di-shahih-kan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim, Adz-Dzahabi dan Syeikh Al Albani dalam Silsilatul ahaadits Ash-Shahiahah, no. 143.

[14] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul lahfan, hal. 424 – Mawaaridul amaan.

[15] HR. Muslim no. 2999.

[16] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul lahfan, hal. 423 – Mawaaridul amaan, dan imam Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘uluumi wal Hikam, (hal. 461- cet. Dar Ibni Hazm.

[17] HR Bukhari (no. 6053).

[18] Kitab Al-Waabilush Shayyib hal. 67- cet. Darul kitaabil ‘arabi.

Selasa, 11 Januari 2011

Ngalap Berkah (Tabarruk )

Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ mendapat pertanyaan sebagai berikut,

“Kami sangat ingin Anda sekalian menjelaskan mana sajakah tabarruk (ngalap berkah) yang terlarang (alias bid’ah), kapan tabarruk semacam itu digolongkan syirik akbar dan kapan digolongkan syirik ashgor? Mohon sertakan pula dengan contoh.”

Jawaban Al Lajnah Ad Daimah:

Tabarruk kepada makhluk ada dua macam:

Macam pertama: Termasuk Syirik Akbar

Tabarruk pada makhluk seperti pada kubur, pohon, batu, manusia yang masih hidup atau telah mati, di mana orang yang bertabarruk ingin mendapatkan barokah dari makhluk tersebut (bukan dari Allah), atau jika bertabarruk dengan makhluk tersebut dapat mendekatkan dirinya pada Allah Ta’ala, atau ingin mendapatkan syafa’at dari makhluk tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terdahulu, maka seperti ini termasuk syirik akbar. Karena kelakukan semacam ini adalah sejenis dengan perbuatan orang musyrik pada berhala atau sesembahan mereka. Mengenai hal ini terdapat dalam hadits Abu Waqid Al Laitsi yang mengisahkan tentang orang-orang musyrik yang menggantungkan senjata-senjata mereka[1] pada sebuah pohon. Perbuatan yang dilakukan oleh mereka ini dianggap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syirik akbar. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyerupakan permintaan sebagian sahabat (yang baru saja masuk Islam) yang meminta dijadikan pohon sebagaimana orang-orang musyrik tadi, yaitu beliau serupakan dengan perkataan Bani Israel pada Musa,

اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ

Buatlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.” (QS. Al A’rof: 183)

Macam kedua: Termasuk Bid’ah

Tabarruk kepada makhluk dengan keyakinan bahwa tabarruk pada makhluk tersebut akan berbuahkan pahala karena telah mendekatkan pada Allah, namun keyakinannya bukanlah makhluk tersebut yang mendatangkan manfaat atau bahaya. Hal ini seperti tabarruk yang dilakukan orang jahil dengan mengusap-usap kain ka’bah, dengan menyentuh dinding ka’bah, dengan menyentuh maqom Ibrahim dan hujroh nabawiyah, atau dengan menyentuh tiang masjidi harom dan masjid nabawi; ini semua dilakukan dalam rangka meraih berkah dari Allah, tabarruk semacam ini adalah tabarruk yang bid’ah (tidak ada tuntunannya dalam ajaran Islam) dan termasuk wasilah (perantara) pada syirik akbar kecuali jika ada dalil khusus akan hal itu. Contoh khusus yang termasuk tabarruk yang dibolehkan adalah tabarruk dengan air zam-zam, tabarruk dengan keringat dan rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dengan tabarruk dengan jasad dan bekas wudhu beliau shalawaatullah wa salaamu ‘alaih. Contoh khusus yang disebutkan ini tidaklah terlarang karena ada dalil yang membolehkannya.

Wabillahit taufiq, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Fatwa Al Lajnah Ad Daimah ini ditandatangani oleh:

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua; Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh selaku wakil ketua; Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan, Syaikh Sholeh Al Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid masing-masing selaku anggota.

Reference: Fatawa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 1/ 352-353, pertanyaan kedua dari fatwa no. 18511, terbitan Ar Ri-asah Al ‘Ammah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, cetakan pertama, 1428 H

***

Mengapa mengusap dinding atau kain Ka’bah, begitu pula tiang masjidil Harom terlarang? Karena perlu dipahami bahwa berkah yang ada pada Ka’bah dan Masjidil Harom adalah berkah yang sifatnya ma’nawi. Artinya di antara berkahnya adalah dengan berlipatnya pahala ketika beribadah di sana. Dan berkah yang sifatnya ma’nawi tidak bisa berpindah secara zat. Berbeda halnya dengan berkah yang sifatnya dzatiyah, yang bisa berpindah seperti berkah dari keringat atau rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkah yang bersifat dzat ini hanya dikhususkan pada para nabi saja. Sedangkan orang-orang selain itu tidak ada dalil yang menunjukkannya sehingga tidak tepat ada yang ngalap berkah dengan keringatnya “Pak Kyai”. Karena para sahabat saja sendiri tidak pernah ngalap berkah dengan dzat Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali. Padahal mereka adalah semulia-mulianya sahabat. Ngalap berkah dengan ulama atau kyai bukanlah dengan dzat, namun dengan ilmu dan dengan mempelajari akhlaq mereka. Jadi harus benar-benar dipahami beda antara tabarruk ma’nawiyah dan tabarruk dzatiyah.[2]

Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal www.rumaysho.com

[1] Syaikh Hammad Al Hammad hafizhohullah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menggantukan senjata mereka tersebut dalam rangka mearih berkah yaitu datangnya kekuatan.

[2] Ini faedah dari Durus “Kitab Tauhid”, Syaikh Hammad Al Hammad, KSU, Riyadh, KSA.

Jumat, 05 November 2010

KHUTBAH JUM'AT BULAN DZULHIJJAH

KEUTAMAAN DZULHIJJAH DAN AMALAN-AMALAN YANG TERKAIT

Di dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita akan menjumpai hari-hari yang Alloh berikan keutamaan di dalamnya. Yaitu dengan dilipatgandakannya balasan amalan dengan pahala yang berlipat, tidak seperti hari-hari biasanya. Di antara hari-hari tersebut adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Dzulhijjah, tamu kita setelah Ramadhan. Ternyata Alloh Ta’ala melalui utusanNya ShalAllohu 'alaihi wassalam, telah menjanjikan bulan lain yang tidak kalah utamanya dibanding dengan keutamaan bulan Ramadhan. Mengapa demikian ? Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

شَهْرَا عِيْدٍ لاَ يَنْقُصَان، رَمَضَانَ وَذُوالْحِجَّة {رواه مسلم، كتاب الصيام 1089{

Artinya : “Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan Dzulhijjah.”

Adapun keutamaan bulan Dzulhijjah, Rasulullah ShalAllohu 'alaihi wassalam telah bersabda :

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أََحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنيِ أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

"Tiada hari yang lebih di cintai Alloh ta'ala untuk berbuat suatu amalan yang baik dari pada hari-hari ini yaitu sepuluh hari Dzul Hijjah, para sahabat bertanya," wahai Rasulullah, tidak pula dengan jihad fii sabilillah? Rasulullah menjawab," tidak, tidak pula jihad fii sabilillah, kecuali jika ia keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tak kembali lagi".(HR Jama’ah kecuali Muslim dan an Nasa’i)

Dikarenakan adanya keutamaan yang besar dari beberapa hari diantara bulan Dzulhijjah tersebut, maka sangat utama pula kita mengisinya dengan amal sholih sebagai kelanjutan tabungan pahala amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu.

Diantara amal-amal yang perlu kita lakukan pada sepuluh hari Dzul Hijjah dan ditambah dengan hari tasyriq, cukuplah sekiranya hal itu membuat kita dicintai Alloh Subhanahu wa Ta'ala, antara lain adalah :

{Dr.Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin (فضل أيامِ عشر ذي الحجة والأعمالُ الواردةُ فيها)}

1. Banyak berdzikir pada hari-hari tersebut. Alloh ta'ala berfirman (QS. Al Hajj: 28).:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

"Dan supaya mereka menyebut nama Alloh pada hari –hari yang telah ditentukan".

عن ابن عباس: الأيام المعلومات: أيام العشر،

Hari-hari yang telah di tentukan dalam ayat ini ditafsirkan dengan sepuluh hari Dzul Hijjah.(Tafsir Ibnu Katsir)

مَا مِنْ اَياَّم الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَياَّم الْعَشْرَةِ {رواه البخاري{

Artinya : “Tidak ada hari yang amal sholih di dalamnya lebih dicintai oleh Alloh dari hari-hari yang sepuluh ini.” (HR Bukhari).

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyAllohu 'anhuma, bahwa Rasulullah bersabda:

((مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ))

"Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Alloh ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illAlloh), takbir (Allohu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".

2. Puasa dengan sempurna (penuh) pada tanggal 1 - 9 Dzul Hijjah atau semampunya, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji

Adapun hadits mengenai keutamaan puasa hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah) secara khusus, maka ini adalah hadits yang palsu. Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah r bersabda:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةٍ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ

“Puasa hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun dan puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun.” [H.R. Abusy Syaikh dan Ibnun Najjar, Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir, Maudhu’ (palsu)”]

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Qatadah t, bahwa Rasulullah r bersabda:

(( صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ ))

"Saya mengharap kepada Alloh agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya"

Mengenai hari Arofah, Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

Di antara hari yang Alloh banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Alloh berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”[ HR. Muslim no. 1348]

Ibnu Rajab Al Hambali [ Latho-if Al Ma’arif] mengatakan, “Hari Arofah adalah hari pembebasan dari api neraka. Pada hari itu, Alloh akan membebaskan siapa saja yang sedang wukuf di Arofah dan penduduk negeri kaum muslimin yang tidak melaksanakan wukuf. ....”

Nabi t mencontohkan untuk memperbanyak syahadat tauhid, keikhlasan dan kejujuran pada hari tersebut dan beliau menyebutkannya setelah menyebutkan bahwa do’a pada hari Arofah adalah sebaik-baik do’a

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illAlloh wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Alloh yang menguasai segala sesuatu)”.”[ HR. Tirmidzi no. 3585, hasan]

بارك الله لي ولكم في القرآن والسنة، ونفعنا جميعا بما فيهما من الآيات والحكمة، إنه جواد كريم

KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ الْكَرِيْمِ الْمَنَّانِ الرَّحِيْمِ ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَدُوْمُ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى الْخَيْرِ وَاْلإِنْعَامِ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنَ الذُّنُوْبِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً إلى يوم الدين، فيا أيها الناس، اتقوا الله حق التقوى، واعلموا أن أحسن الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة، وعليكم بجماعة المسلمين فإن يد الله على الجماعة، ومن شذ شذ في النار أما بعد:

Kemudian di antara amalan yang hendaknya diperbanyak muslim di bulan dzulhijjah, hari ied adh-ha dan tasyriq adalah:

3. Banyak bertaubat dan memohon ampun kepada Alloh

4. Memperbanyak amal shaleh dan ibadah-ibadah yang di sunnahkan, seperti; shalat, membaca Al quran, shodaqoh dan beramar ma'ruf nahi munkar dan lain-lain, karena sesungguhnya ibadah-ibadah semacam ini dilipatgandakan pahalanya, bahkan amalan-amalan yang biasa lebih utama dan dicintai Alloh dari pada amalan yang utama pada waktu (hari) yang lain.

5. Melaksanakan udhhiyah pada hari ied dan hari tasyriq dan memperbanyak do’a & dzikir padanya

Hari Idul Adha dan Hari Tasyriq, Hari Yang Paling Mulia

Mengenai keutamaan hari Idul Adha dan hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Daud,

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Alloh Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (hari tasyriq).”[ HR. Abu Daud no. 1765] Hari tasyriq disebut yaumul qorr karena pada saat itu orang yang berhaji berdiam di Mina. Hari tasyriq yang terbaik adalah hari tasyriq yang pertama, kemudian yang berikutnya dan berikutnya lagi.[ Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali,]

Di samping udhhiyah Mayoritas ulama menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq berdasar surat Al Baqarah: 200-201

Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - « اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ »

Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam “Allohumma Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Wahai Alloh, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].”[ HR. Bukhari no. 2389 dan Muslim no. 2690]

Di dalam do’a telah terkumpul kebaikan di dunia dan akhirat.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Kebaikan di akhirat adalah surga.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan rizki yang thoyib. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah surga.

Itulah beberapa janji Alloh dan RasulNya ShalAllohu 'alaihi wassalam. Karena itu, mari kita isi hari-hari dari bulan Dzulhijjah ini dengan amalan ibadah yang membuat kita dicintai Alloh Ta’ala. WAllohu Ta’ala A’lam.
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إنك سَمِيْعٌ مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَأَمِتْنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ تسليما كثيرا, وأخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

(Diringkas dari berbagai sumber)

Pucangsawit, Solo, 28th Dzulqo’dah 1431 H (05/11/2010)

Abu Rusydan Jaka Prasetya S.Si

www.jprasetya.blogspot.com