Jumat, 23 September 2011

KHUTBAH JUM'AT: CONTOH YANG BAIK

Manusia terbaik adalah yang telah ditetapkan oleh Alloh I, dan menjadi contoh bagi kita semua adalah Rosululloh r. Alloh I berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagi kalian ....” (Al-Ahzab: 21)

هذه الآيةُ الكريمة أَصْلٌ كَبِيْر في التَّأَسِي برسول الله صلى الله عليه وسلم في أقواله وأفعاله وأحواله

Ibnu Kastir mengatakan, “Ayat ini merupakan dalil yang agung dalam menjelaskan tentang disyariatkannya mengikuti Rosululloh r dalam ucapan2 beliau, perbuatan2 beliau, dan keadaan2lainnya pada beliau.” Maka wajib bagi kita semua untuk menerima dan membenarkan seluruh berita yang datang dari beliau. Sebagaimana wajib juga bagi kita untuk menjalankan perintah2nya dan menjauhi larangan2nya serta tdk beribadah kepada Alloh I kecuali dengan syariat yang dibawa Rosululloh r dan mencontoh beliau dalam menjalankannya

Adapun manusia yang terbaik setelah Rosululloh r yang disyariatkan bagi kita semua untuk menjadikannya sebagai contoh yang baik adalah para sahabatnya yang mulia. Alloh I berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan para pendahulu yang pertama (yang mendahului dalam beriman) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Di dalam ayat ini Alloh I memberitakan menyediakan surga bagi 2 golongan. Pertama, golongan sahabat: Muhajirin dan Anshar. Kedua, orang-orang yang mengikuti golongan pertama dengan baik. Maka jelaslah, bahwasanya Alloh I telah menjadikan mereka para sahabat sebagai suri tauladan yang baik bagi kita. Oleh karena itu, kewajiban kita semua adalah mencintai mereka dan mengikuti pemahaman mereka dalam menjalankan agama ini. Rosululloh r : خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Dr. Muhammad Al ‘Aqil [Manhaj Imam Asy Syafi’i Fi Itsbatil Aqidah], Imam Syafi’i rahimahullah, berkata:

مَا كَانَ الْكِتَابُ أَوِ السُّنَّةُ مَوْجُوْدَيْنِ , فَالْعُذْرُ عَلَى مَنْ سَمِعَهُمَا مَقْطُوْعٌ إِلاَّ بِاتِّبَاعِهِمَا,

“Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka alasan terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya.

فَإِذَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ صِرْنَا إَلَى أَقَاوِيْلِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ وَحِدٍ مِنْهُمْ

Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, atau salah satu dari mereka. Jadi orang-orang yang mengikuti jalan para sahabat adalah orang-orang yang mulia. Sehingga kita juga disyariatkan untuk menjadikan para ulama yang hidup pada masa generasi terbaik setelah masa Rosululloh dan para ulama yang datang berikutnya yang mengikuti jalan mereka, sebagai suri tauladan yang baik bagi kita semua. Adapun orang-orang yang mengajak kepada amalan ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Rosululloh, maka mereka bukanlah suri tauladan yang baik. Meskipun mereka dianggap sebagai ulama, da’i, tokoh Islam, atau yang semisalnya. Bahkan kewajiban kita justru berhati-hati agar kita tidak terpengaruh dari penyimpangan mereka dalam memahami agama ini.

Termasuk bentuk mencontoh yang bisa memengaruhi akidah, ibadah, dan akhlak seseorang adalah yang berkaitan dengan teman bergaulnya. Apabila teman bergaulnya baik agamanya, maka orang yang berteman dengannya pun akan terpengaruh dengan kebaikan orang tersebut. Namun sebaliknya, apabila teman bergaulnya rusak akidah, ibadah, dan akhlaknya, maka orang yang berteman dengannya akan mengikuti kerusakannya. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam memilih teman bergaul untuk diri kita maupun teman bergaul anak-anak kita. Karena seseorang akan terpengaruh teman-teman dekatnya dan dia akan menyesal apabila teman-teman dekatnya adalah orang-orang yang tidak baik. Alloh berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

“Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang telah berbuat zalim menggigit dua tangannya (karena menyesali perbuatannya), seraya berkata: “Ya seandainya aku dahulu mengikuti jalannya Rosululloh. Sungguh celakalah aku, seandainya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman dekatku. Sungguh dia telah menyesatkan aku dari mengikuti Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku, maka setan itu tidak akan mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)

Akhirnya, mudah-mudahan Alloh I memudahkan kita untuk bisa mencontoh dan mengikuti Rosululloh serta menjadikan para sahabatnya dan para ulama yang mengikuti jejaknya sebagai suri tauladan bagi kita. Dan mudah-mudahan Alloh I senantiasa menjaga kita dari mengikuti dan mencontoh orang-orang yang jelek dan rusak agamanya.

بارك الله لي ولكم في القرآن والسنة، ونفعنا جميعا بما فيهما من الآيات والحكمة، إنه جواد كريم

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، أَمَرَنَا بِالْاِقْتِدَاءِ بِأَهْلِ الْخَيْرِ وَالرَّشَادِ، وَنَهَانَا عَنِ الْاِقْتِدَاءِ بِأَهْلِ الشَّرِّ وَالْفَسَادِ،

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادةً تَنْفَعُ قَائِلَهَا يَوْمَ الْمَعَادِ، وََأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ

مِنْ سَائِرِ العِبَادِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاه، أَمَّا بَعْدُ:

Rosululloh telah menyebutkan dalam sabdanya:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَم سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِم شَيْءٌ،

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa menjadi contoh yang baik dalam menjalankan syariat Islam (dengan menghidupkan Sunnah Nabi n), maka dia mendapat pahala dari perbuatan baiknya dan pahala dari orang yang mencontohnya setelahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari pahala orang-orang yang mencontohnya tersebut. Dan barangsiapa membuat contoh yang jelek dalam menjalankan agama Islam (dengan melakukan amalan yang tidak disyariatkan) maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya dan menanggung dosa orang yang mencontohnya setelahnya tanpa terkurangi sedikitpun dari dosa orang-orang yang mencontohnya tersebut.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut memberikan dorongan kepada seseorang untuk menjadi contoh yang baik sekaligus memperingatkan kepada seseorang untuk tidak menjadi contoh yang jelek bagi orang lain.

Oleh karena itu, di antara perkara yang penting yang harus diperhatikan dalam masalah ini adalah agar para orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Alloh I telah memberitakan betapa besar karunia dan keutamaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang menjadi contoh yang baik bagi anak keturunannya di dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan yang keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan keturunan mereka dengan mereka di dalam surga dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (Ath-Thur: 21)

Namun sebaliknya, apabila orangtua menjadi contoh yang tidak baik bagi anak keturunannya, maka sangat besar kemungkinannya, anak keturunannya pun akan mengikutinya dan menolak untuk menerima kebenaran. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam firman Alloh I:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh.’ Mereka menjawab: ‘(Tidak), bahkan kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Baqarah: 170)

Oleh karena itu sudah seharusnya bagi orang-orang yang menginginkan memiliki anak keturunan yang baik untuk memulai dengan memperbaiki dirinya sehingga bisa menjadi contoh yang baik bagi mereka. Karena bagaimana mungkin seseorang akan mendapatkan anak keturunannya menjadi orang-orang yang benar akidahnya, sementara orangtuanya adalah orang-orang yang masih percaya dengan para dukun dan meminta pertolongan dengan beribadah kepada jin serta perbuatan syirik lainnya?

Bagaimana pula seseorang mengharapkan anak keturunannya menjadi orang-orang yang baik agamanya, sementara orangtuanya adalah orang-orang yang tidak mau pergi ke masjid untuk shalat berjamaah? Tentunya anak keturunan yang baik yang diinginkan oleh orangtua yang demikian keadaannya tidak akan datang kecuali anak-anak yang diberi rahmat oleh Alloh I. Maka, marilah kita semua bertakwa kepada Alloh I dan berusaha untuk senantiasa memperbaiki diri sehingga menjadi contoh yang baik bagi anak keturunan kita.

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إنك سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَأَمِتْنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ . رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ تسليما كثيرا, وأخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Dinukil dari Khutbah Jum'at Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc, dengan tambahan & ringkasan.

Jumat, 26 Agustus 2011

KHUTBAH JUM'AT:Di akhir Romadhon

Muhasabah di Akhir Romadhon

Bulan yang penuh berkah hampir berlalu. Bulan yang akan menjadi saksi & membela setiap orang yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ketaatan kepada Alloh atau justru menjadi saksi yang akan menghujat setiap orang yang memandang remeh bulan Ramadlan. Oleh karena itu, hendaknya diri kita masing-masing membuka pintu muhasabah terhadap diri kita. Amalan apakah yang telah kita kerjakan di bulan tersebut? Apakah faedah dan buah yang kita petik pada bulan Ramadlan tersebut? Apakah pengaruh bulan Ramadlan tersebut terhadap jiwa, akhlak dan perilaku kita?

’Ali bin Abi Thalib radliyallohu ‘anhu mengatakan, yang mewakili sahabat Nabi SAW

كُوْنُوْا لِقَبُوْلِ اْلعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِاْلعَمَلِ، أَلَمْ تَسْمَعُوْا اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَقُوْلُ : [إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ [

Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Alloh ’azza wa jalla, “Sesungguhnya Alloh hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al Maaidah: 27).” (Lathaaiful Ma’arif: 232).

Demikianlah sifat yang tertanam dalam diri sahabat. Mereka bukanlah kaum yang merasa puas dengan amalan yang telah dikerjakan. Mereka tidaklah termasuk ke dalam golongan yang tertipu akan berbagai amalan yang telah dilakukan. Akan tetapi mereka adalah kaum yang senantiasa merasa khawatir dan takut bahwa amalan yang telah mereka kerjakan justru akan ditolak oleh Alloh ta’ala karena adanya kekurangan. Demikianlah sifat seorang mukmin yang mukhlis dalam beribadah kepada Rabb-nya.

Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam, menjelaskan:

وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Alloh. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (Shahihut Tirmidzi).

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi). Rasulullah SAW juga bersabda:

قَالَ لِيْ جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِيْنَ

"Jibril -alaihis salam- berkata kepadaku, "Semoga kecelakaan bagi seorang hamba yang didatangi oleh bulan Romadhon, namun tidak diberi ampunan", maka saya pun berkata, "Amiin". [Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqiy, Shohih Al-Adab Al-Mufrod]

Ibnu Rajab Al-Hanbali [Latho’if Al-Ma’arif (hal.232)] berkata, "Jika bulan Romadhon telah sempurna, maka sungguh puasa, dan sholat malam telah lengkap bagi orang beriman. Maka terjadilah baginya pengampunan dosanya yang lalu dengan sempurnanya 2 sebab itu, yaitu puasa, & sholat malamnya".

Ramadhan adalah titik tolak untuk kembali ke jalan yang lurus. Dari sana kita bangun komitmen ketaatan seumur hidup seperti ketaatan selama Ramadhan. Karena, biasanya mulai 1 Syawal, banyak orang sudah mulai meninggalkan shalat karena sibuk silaturahmi atau berekreasi, bahkan shalat shubuh tidak dikerjakan, ini seperti sifat orang munafik لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ

Nabi saw. selalu mengingatkan agar kita selalu istiqomah, karena ini amalan yang Paling Dicintai Alloh

Rasulullah shallAlloh u ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِكْلَفُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Bebanilah diri kalian dengan amal sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Alloh tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 1228 mengatakan hadits ini shohih)

Maka mari kita manfaatkan kesempatan Romadhon yang tinggal sebentar ini untuk memperbanyak amalan, do’a, mengadu, dan bermunajat kepada Alloh Robbul Alamin. Semoga setitik air mata penyesalan, dan rasa takut dari dosa akan menyelamatkan diri kita dari siksa neraka yang pedih.

بارك الله لي ولكم في القرآن والسنة، ونفعنا جميعا بما فيهما من الآيات والحكمة، إنه جواد كريم

KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ الْكَرِيْمِ الْمَنَّانِ الرَّحِيْمِ ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَدُوْمُ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى الْخَيْرِ وَاْلإِنْعَامِ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنَ الذُّنُوْبِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً إلى يوم الدين، فيا أيها الناس، اتقوا الله حق التقوى، فبادروا عباد الله بالأعمال الصالحات، وتزودوا فإن خير الزاد التقوى أما بعد:

Setiap tahun kita menjalani ibadah Ramadhan dengan penuh semangat siang dan malam: siangnya kita berpuasa, malamnya kita tegakkan shalat malam, tetapi benarkah nuansa ketaatan itu akan terus bertahan seumur hidup kita? Atau ternyata itu hanya untuk Ramadhan? Berapa banyak orang Islam yang selama Ramadhan rajin ke masjid, tetapi begitu Ramadhan habis, seakan tidak kenal masjid lagi. Berapa banyak orang Islam yang selama Ramadhan rajin baca Al Qur’an, tetapi begitu Ramadhan selesai, Al Qur’an dilupakan tak tersentuh. Selama Ramadhan ketaatan dirangkai, begitu Ramadhan habis, semua ketaatan yang indah itu dicerai beraikan kembali. Tepatlah perkataan sebagian Ulama(Latho’if Ma’arif):

بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

“Alangkah buruknya tingkah mereka; yang tidak mengenal Alloh melainkan hanya di bulan Ramadhan!”

Maka yang perlu dijadikan perhatian jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat berjamaah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca Al-Qur’an, doa dan zikir, rajin menghadiri majelis ta’lim dan gemar bersedekah di bulan Ramadhan, mari terus kita laksanakan di luar Ramadhan. Sebagian Ahlul hikmah mengatakan,

مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ اَلْحَسَنَةُ بَعْدَ هَا وَمِنْ عُقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ اَلسَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Diantara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya.”(Al Fawaa-id hal. 35).

Maka janganlah kita menjadi orang yang merayakan ‘Iedul Fitri dengan penuh suka cita tapi melupakan dan meninggalkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadlan.

Jadi ketika Ied, gembira tapi tetap syukur, ibadah & janganlah merasa yakin telah terhapuskan dosa kita, tetapi kita munculkan rasa khouf dan roja’ inilah cerminan aqidah shohihah.

Sungguh PeDe sekali, Orang yang ketika Idul Fitri merasa sudah suci, Dosa-dosanya tak bersisa lagi

Dan kembali seperti bayi, Padahal puasanya hanya ikut tradisi, Shalat tarawih cuma beberapa hari

Baca Qur’an hanya sesekali, Shodaqohnya ingin dipuji, Larangan agama tak dijauhi

Lailatul Qodarpun tak peduli, Sibuk pikirkan gaji & anak-istri, Mungkinkah dosa-dosanya diampuni?

Marilah kita masing-masing ber muhasabah!!!

Terakhir, semoga Alloh menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang istiqamah di atas ketentuan-ketentuan syariat ini, menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa bergegas melaksanakan amalan shalih. dan semoga Alloh Ta’ala menghidupkan kita dengan kehidupan yang baik di dunia & akhirat dan dikumpulkan nanti di hari kiamat bersama golongan orang-orang yang shalih & muwahhid.

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وارحمنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سميع قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ تسليما كثيرا, وأخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


Jumat, 01 Juli 2011

KHUTBAH JUM'AT: Keutamaan Sya’ban & Bid’ah-Bid’ah Yang Tersebar

Keutamaan Sya’ban & Bid’ah-Bid’ah Yang Tersebar

Ketika masuk Rajab tersebar do’a: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلغنا فِى رَمَضَانَ hadits dho’if karena Zaidah bin Abi Ar Ruqod adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) [Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif, Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad]

رَجَب شَهْرُ الله, وشَعْبَان شَهْرِي, ورمضان شهر أُمَّتِى

Hadits ini “Maudhu”:rowi tertuduh pendusta dusta & majhul [Ibn al-Jauzi, Ibn Qayyim, Ibn Hajar, as-Suyuti dll]

Sya'ban adalah bulan yang mulia, sehingga disunnahkan bagi kaum muslimin untuk memperbanyak beramal sholih seperti Puasa, baca al quran, sedekah, dll. dari ‘Aisyah رضي الله عنها. Beliau berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطْ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامً فِي شَعْبَانَ.

“Rasulullah r berpuasa hingga kami mengatakan beliaur tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan bahwa beliau rtidak pernah puasa. Namun Rasulullah r tidak pernah berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat satu bulan yang paling banyak beliau berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim).

Tapi sayangnya banyak yang membuat bid’ah amalan di bulan Sya'ban seperti mengkhususkan puasa pada Nisfu Sya’ban, mengadakan perayaan malam Nisfu Sya’ban, shalat pada malam Nisfu Sya’ban (100 rakaat, pada tiap rakaat membaca al Fatihah dan al Ikhlas 10 kali), dikarenakan tertipu dengan hadits dho’if & maudhu’

عبدالعزيز بن باز (حُكم الاِحْتِفال بليلة النصف من شعبان):وقَدْ وَرَدَ في فَضْلِها أحاديث ضَعِيْفَة ، أمَّا مَا ورد في فضل الصلاة فيها، فكُلُّه مَوْضُوع، كما نَبَّه على ذلك كثير من أهل العلم. وقال الإمام العلامة الشوكاني رحمه الله: في: (الْمُخْتَصَر): حديث صلاة نصْف شعبان باطل، ولابن حبان من حديث علي : (إِذَا كَانَتْ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا)، ضعيف

Imam Nawawi [Al Majmu”] menyebutkan pada dasarnya hadits hadits tersebut bathil (tidak boleh diamalkan). Ada beberapa ulama yang tertipu dengan hadits ini dianggap shohih yi Al Ghozali [Quutul qulub & Ihya]. Padahal semua haditsnya batil dan palsu (كلها باطلة موضوعة). Sehingga mengkhususkan puasa pada Nisfu Sya’ban, mengadakan perayaan malam Nisfu Sya’ban, shalat pada malam Nisfu Sya’ban merupakan bid’ah. Yang lebih parah malam Nishfu Sya'ban dianggap lebih utama dari lailatul qadr.Semoga kita dijaga dari bid’ah.

عبدالعزيز بن باز (حُكم الاِحْتِفال بليلة النصف من شعبان )

وأَوْضَحَ صلى الله عليه وسلم أنَّ كُلَّ ما يُحْدِثُه الناس بعده ويَنْسِبُونَه إلى دِيْنِ الإِسْلام من أقوال أو أعمال، فكله بدعة مردود على من أَحْدَثَهُ، ولَوْ حَسُنَ قَصْدُه،

Rosululloh r menjelaskan, setiap perkara baru yang diada-adakan baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan disandarkan pada Islam, maka perkara tersebut tertolak, walaupun disertai dengan niat yang baik.

وقد عَرَّفَ أَصْحابُ رَسُولِ الله e الأَمْرُ، وهكذا علماء الإسلام بعدهم، فأنْكَرُوا البدع وحَذَّرُوا مِنْها

Para shahabat dan ulama sesudahnya pun mengetahui perkara ini. Mereka juga mengingkari bid’ah dan mengingatkan umat ini agar berhati-hati terhadap perkara tersebut. Di antaranya:

Abdullah bin Abbas radhiyAllohu ‘anhuma berkata,

مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ

“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

Abdullah bin Mas’ud radhiyAllohu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih). Beliau juga berkata:

اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

“Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimiy)

‘Abdullah bin ‘Umar radhiAllohu 'anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`iy dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)

بارك الله لي ولكم في القرآن والسنة، ونفعنا جميعا بما فيهما من الآيات والحكمة، إنه جواد كريم

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، أحمد الله تعالى كثيرا و أشكره، وأستعين به وأستغفره، وأصلي وأسلم على عبده ورسوله، محمد خاتمُ الأنبياء والمرسلين، وقُدْوَةُ المؤمنين المتقين إلى يوم الدين، أما بعد: أيها الإِخْوَةُ الكِرَام الأَحِبَّة

Ketahuilah amalan-amalan bid’ah itu pasti tertolak dan sia-sia, Rosululloh r bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Di samping itu, para pelaku bid’ah ini sangat sulit untuk mendapatkan hidayah, dia terhalangi dari taubat karena merasa yang dilakukannya itu benar, dan inilah di antara langkah setan menyesatkan manusia.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

“Alloh betul-betul akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Thabrani. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 54)

لا يَجُوز تَخْصِيص شَيْء مِنْها بشيء من العبادة، إلا بدليل صحيح يَدَلَ على التخصيص

كما في قاعدة الفقه:الأَصْلُ فى العِبادة التَّحْرَيْم إلاّ ما جاءَ بِهِ دَلِيْلٌ

Sehingga walaupun amalan itu kelihatannya baik di mata manusia tapi jika tidak ada dalil dan petunjuk dari Alloh I dan rosulNya maka amalan itu jelek. Karena agama bukan dengan akal tapi dalil dari wahyu yang suci. Maka di bulan Sya'ban ini hendaknya mengerjakan amal sholih seperti biasanya dan kalau mampu memperbanyaknya seperti Puasa sunnah, baca al quran, shodaqoh, dll.

والله الْمَسْؤُول أَن يُوَفِّقُنا وسَائَر المسلمين للتَّمَسُّك بالسنة والثَّبات عليها، والْحَذَرُ مِمَّا خَالِفُها، إنه جواد كريم،


الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إنك سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَأَمِتْنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ . رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ تسليما كثيرا, وأخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين